Suatu ketika, pernah
sesekali aku berkumpul dengan para penggembala gelisah, berkumpul dan
bercengkrama di bawah pohon angan-angan yang teduh, sambil menuguk segelas susu
hasil perahan gelisah gelisah gembalaanya, tak banyak hal yang kami bicarakan,
selain dengan kerendahan diri kami yang selalu memperbincangkan ketinggian matahari, tanpa pernah sekali pun
mensyukuri panasnya atau sesekali dia bercerita tentang bagaimana dia merawat
gelisah-gelisahnya selama ini.
Ternyata, penggembala
ini adalah orang baik, ia sangat menyayangi gelisahnya, seperti dia menyayangi
dirinya sendiri, sungguh sayang yang kelewatan menurutku. Karena
gelisah-gelisah itu kini menjadi semakin manja dan gemuk, lebih gemuk daripada
penggembala itu yang kelihatan kurus dan bermuka masam. ketika
gelisah-gelisahnya tak mau diatur, bukan gelisahnya yang ia marahi, tapi malah
kenyataan yang ia caci maki, karena kenyataanlah yang membuat
gelisah-gelisahnya itu susah diatur, tapi bukan gelisahnya itu, tentu saja bukan,
kenapa?? Karena dia sangat menyayangi gelisah-gelisahnya itu
Kadang dia bercerita
sambil menangis, tatkala gelisah-gelisah gembalaanya tak kunjung pulang dari
kebun hati di ujung gunung, kadang pun dia tertawa, ketika teringat awal pertama dia berjumpa dengan
gelisah-gelisahnya itu, tentu ini bukan gelisah pertamanya, namun
gelisah-gelisah yang dulu satu persatu mulai tersingkir, karena kedatangan
gelisah yang baru ini, “gelisah ini istimewa” kata penggembala itu, “gelisah
ini aku temukan ditengah hutan universitas, dibawah kaki gunung pendidikan,
pertama aku melihatnya, aku langsung jatuh cinta kepadanya, gelisah itu
terlihat gagah dan kuat, yang seakan-akan bisa menghilangkan kegelisahanku
selama ini”
“kalau benar dulu
gelisah-gelisahmu itu gagah dan kuat, namun kenapa mereka sekarang terlihat
manja dan gemuk-gemuk?” tanyaku kepada penggembala itu.
“Bukankah itu yang
mereka inginkan, menjadi gemuk dan dimanjakan, aku hanya melakukan kewajibanku
sebagai penggembala yang baik” jawab penggembala itu
“apakah benar itu yang
mereka harapkan, menjadi gemuk dan dimanjakan, apa kamu pernah bertanya kepada
mereka , tentang apa yang mereka inginkan”
“untuk apa aku bertanya
kepada mereka, aku lihat gelisah-gelisah
milik orang lain juga sangat gemuk dan dimanjakan?, tidak ada yang salah dengan
itu.!!!” Bentak si penggembala gelisah.
“itu bukan perlakuan
seorang penggembala, kau bukan penggembala, kau sudah menjadi budak
gelisah-gelisahmu sendiri”
“cukup!!!, kau tidak
usah menggurui aku, !!!
Sekarang wajah penggembala
itu menjadi merah, matanya tajam melihat kearahku tampak ada kemarahan di kedua
bola matanya, tapi tiba-tiba pula dia ambruk jatuh tersungkur dan kepalanya
tertunduk dalam-dalam, tampaknya dia mulai merenungkan kata-kataku, aku lihat
perlahan air mata mengalir di pipinya,walaupun tidak deras tapi air mata itu
perlahan-lahan jatuh ke tanah, ku biarkan saja sejenak dia menangis
sekencang-kencangnya.
Lalu Aku dekati dia,
aku peluk dia… ku angkat tubuhnya..namun kepalanya tetap tertunduk , matanya
pun yang tadi tajam dan garang kini tidak mau melihatku
Akupun bertanya
kepadanya, “Wahai penggembala, untuk apa kau lakukan semua ini,untuk apa kau
pelihara gelisah-gelisah itu”
Dengan nada suara yang
terbata-bata, penggembala itupun menjawab. “ aku hanya penggembala kecil, aku
tidak pernah berharap banyak terhadap semua gelisah-gelisahku, yang aku
harapkan adalah suatu hari nanti, seseorang dermawan akan singgah ke kebunku,
dan membeli gelisahku…gelisahku…IJAZAHKU……..!!!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar