Selasa, 02 Januari 2018

PENGGEMBALA GELISAH



Suatu ketika, pernah sesekali aku berkumpul dengan para penggembala gelisah, berkumpul dan bercengkrama di bawah pohon angan-angan yang teduh, sambil menuguk segelas susu hasil perahan gelisah gelisah gembalaanya, tak banyak hal yang kami bicarakan, selain dengan kerendahan diri kami yang selalu memperbincangkan  ketinggian matahari, tanpa pernah sekali pun mensyukuri panasnya atau sesekali dia bercerita tentang bagaimana dia merawat gelisah-gelisahnya selama ini.
Ternyata, penggembala ini adalah orang baik, ia sangat menyayangi gelisahnya, seperti dia menyayangi dirinya sendiri, sungguh sayang yang kelewatan menurutku. Karena gelisah-gelisah itu kini menjadi semakin manja dan gemuk, lebih gemuk daripada penggembala itu yang kelihatan kurus dan bermuka masam. ketika gelisah-gelisahnya tak mau diatur, bukan gelisahnya yang ia marahi, tapi malah kenyataan yang ia caci maki, karena kenyataanlah yang membuat gelisah-gelisahnya itu susah diatur, tapi bukan gelisahnya itu, tentu saja bukan, kenapa?? Karena dia sangat menyayangi gelisah-gelisahnya itu

Kadang dia bercerita sambil menangis, tatkala gelisah-gelisah gembalaanya tak kunjung pulang dari kebun hati di ujung gunung, kadang pun dia tertawa, ketika teringat  awal pertama dia berjumpa dengan gelisah-gelisahnya itu, tentu ini bukan gelisah pertamanya, namun gelisah-gelisah yang dulu satu persatu mulai tersingkir, karena kedatangan gelisah yang baru ini, “gelisah ini istimewa” kata penggembala itu, “gelisah ini aku temukan ditengah hutan universitas, dibawah kaki gunung pendidikan, pertama aku melihatnya, aku langsung jatuh cinta kepadanya, gelisah itu terlihat gagah dan kuat, yang seakan-akan bisa menghilangkan kegelisahanku selama ini”
“kalau benar dulu gelisah-gelisahmu itu gagah dan kuat, namun kenapa mereka sekarang terlihat manja dan gemuk-gemuk?” tanyaku kepada penggembala itu.
“Bukankah itu yang mereka inginkan, menjadi gemuk dan dimanjakan, aku hanya melakukan kewajibanku sebagai penggembala yang baik” jawab penggembala itu
“apakah benar itu yang mereka harapkan, menjadi gemuk dan dimanjakan, apa kamu pernah bertanya kepada mereka , tentang apa yang mereka inginkan”
“untuk apa aku bertanya kepada mereka,  aku lihat gelisah-gelisah milik orang lain juga sangat gemuk dan dimanjakan?, tidak ada yang salah dengan itu.!!!” Bentak si penggembala gelisah.
“itu bukan perlakuan seorang penggembala, kau bukan penggembala, kau sudah menjadi budak gelisah-gelisahmu sendiri”
“cukup!!!, kau tidak usah menggurui aku, !!!
Sekarang wajah penggembala itu menjadi merah, matanya tajam melihat kearahku tampak ada kemarahan di kedua bola matanya, tapi tiba-tiba pula dia ambruk jatuh tersungkur dan kepalanya tertunduk dalam-dalam, tampaknya dia mulai merenungkan kata-kataku, aku lihat perlahan air mata mengalir di pipinya,walaupun tidak deras tapi air mata itu perlahan-lahan jatuh ke tanah, ku biarkan saja sejenak dia menangis sekencang-kencangnya.
Lalu Aku dekati dia, aku peluk dia… ku angkat tubuhnya..namun kepalanya tetap tertunduk , matanya pun yang tadi tajam dan garang kini tidak mau melihatku
Akupun bertanya kepadanya, “Wahai penggembala, untuk apa kau lakukan semua ini,untuk apa kau pelihara gelisah-gelisah itu”
Dengan nada suara yang terbata-bata, penggembala itupun menjawab. “ aku hanya penggembala kecil, aku tidak pernah berharap banyak terhadap semua gelisah-gelisahku, yang aku harapkan adalah suatu hari nanti, seseorang dermawan akan singgah ke kebunku, dan membeli gelisahku…gelisahku…IJAZAHKU……..!!!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

HIPOKRIT

hati, tak kusangka dia sedemikian lembut dia begitu halus,begitu bening tak terpaut sesekali dia mengurung diri, untuk siap terenggut...